Chapter 1: Seorang Gadis Bernama Asanagi Umi
Setelah acara perkenalannya selesai,
Asanagi-san dijuluki sebagai “Gadis Tercantik Kedua di Kelas.” oleh para cowok
di kelas ini.
Alasannya karena di kelas kami ada
Amami-san si "gadis tercantik #1 di kelas" dan dia juga sahabat
terdekat Asanagi-san.
“Ah, akhirnya pelajarannya selesai~. Hei,
Umi, puji aku dong karena aku nggak ketiduran di jam pelajaran kelima dan
keenam~.”
“Nggak bisa, kamu tadi sempat ketiduran loh. Kalau mau dipuji, ya jangan sampai
ketiduran dan belajarlah dengan serius.”
“Uhh, itu susah banget tahuuu~. Soalnya habis makan siang, kamu langsung mulai
dengan ‘mantra-mantra’ itu, kan? Susah banget buat nahan serangan mental yang
kayak begitu tahu.”
“Itu bukan mantra, itu pelajaran etika. E T I K A.”
Amami-San pun memeluk Asanagi-San sambil
mereka bercanda seperti biasanya.
Pemandangan itu sudah jadi hal biasa di
kelas, pemandangan dari momen berharga antara dua murid paling populer di
kelas.
"Hari ini Amami-san masih saja
terlihat seperti bidadari, ya?"
“Dengan melihat senyumannya saja, rasanya aku bisa bertahan di pelajaran apa
pun.”
Aku bisa mendengar bisikan teman sekelasku
yang membicarakan tentang Amami-san yang kecantikannya sudah terkenal di
seluruh sekolah.
“Asanagi juga cantik sih... Nggak, bahkan
bisa dibilang setara, atau mungkin lebih cantik.”
“Tapi kalau dibandingin sama Amami-san, dia jadi kelihatan kurang menonjol
sih.”
Karena ada Amami-san yang pesonanya bahkan
menyaingi kakak kelas, gelar “Tercantik Kedua” buat Asanagi-san terasa agak
nggak adil.
Nggak ada yang bilang langsung ke dia, tapi
pasti gosip tentang julukan itu sudah sampai ke telinganya.
Padahal Asanagi-san nggak salah apa-apa,
tapi dari cara mereka ngomong seakan-akan dia itu lebih rendah. Mungkin ada
sedikit rasa iri di dalam diri mereka, tapi jujur, mendengarnya saja bikin aku
nggak nyaman. Walau begitu, aku gak berhak buat merasa marah.
“Ada apa, Maehara-kun?”
“Ooyama-kun... Nggak, gak ada apa-apa kok.”
Mungkin dia merasa curiga karena melihat
ekspresiku yang aneh. Ooyama-kun yang duduk di sebelahku ini adalah teman
sekelasku yang punya badan yang mirip denganku tapi dia memakai kacamata tanpa
bingkai... tapi yah, kami itu bukan teman dekat. Paling cuma sebatas “kenalan”
yang kadang minjemin buku pelajaran kalau salah satu lupa membawanya.
Dan begitulah hasil kehidupan sekolahku
selama beberapa bulan terakhir.
Aku memutuskan buat nggak mikirin lagi dan
buru-buru beresin barang-barangku supaya bisa cepet pulang ke rumah.
Hari ini adalah hari Jumat, hari sebelum
weekend dimulai. Hari esok dan lusa adalah hari libur, waktu terbaik untuk
semua orang.
Hari libur memang paling enak dinikmatin
dengan santai sendirian, tanpa mikirin orang lain.
“Hei, Umi, ini kan Jumat. Ayo seru-seruan
yuk. Misalnya pergi ke tempat arcade atau karaoke gitu?”
“Ahh... maaf, Yuu. Kayaknya hari ini aku skip dulu deh.”
“Hah? Kenapa? Kamu ada urusan penting ya?”
“Ya, gitu lah. Ada film yang pengen banget aku tonton.”
Film, ya?
Kata itu bikin aku agak tertarik. Aku inget
waktu perkenalan diri dulu, Asanagi-san bilang dia suka kegiatan outdoor.
Ternyata dia juga suka nonton film ya?
Kalau iya, paling film yang dia suka itu
film yang terkenal gitu lah, beda banget sama selera film-ku yang agak aneh.
“Oh ya? Film apa tuh? Action? Romance? Aku
juga pengen nonton kalau emang filmnya menarik.”
“Umm... yang ini sih.”
Asanagi-san nunjukin layar HP-nya ke
Amami-san dan teman-teman di sekitarnya.
Lalu, senyum cerah di wajah Amami-san
sedikit meredup setelah lihatnya.
“...Tuh kan, aku sudah tahu bakal dapat
reaksi kayak gini.”
“Eh, nggak kok, bukan maksudku ngejek selera kamu atau gimana…”
“Tapi pasti kamu pikir filmnya ngebosenin, kan?”
“Y-ya, sedikit... Aku cuma ngerasa gak terlalu tertarik aja, maaf ya.”
“Nggak apa-apa. Aku juga sudah menduganya, makanya rencananya aku mau nonton
sendirian aja.”
Dari cara mereka ngomong, kayaknya
Asanagi-san punya selera film yang agak unik. Dan anehnya, itu malah bikin aku
semakin penasaran.
“Maaf ya. Tapi aku besok free kok, jadi
besok kita bisa ngongkrong bareng. Lihat tuh, yang lain udah nunggu kamu, sana
cepet susul mereka.”
“Oke oke. Tapi janji ya besok, Jangan lupa kamu~”
“Iya, iya. Aku janji”
Saat Asanagi-san mengelus kepala Amami
dengan lembut, aku ngelirik ke arah mereka sebentar lalu cepat-cepat keluar
dari kelas.
Entah kenapa, aku jadi dengerin percakapan
mereka sampai habis. Rasanya kayak nggak sopan karena itu termasuk privasi
mereka, tapi rasa penasaranku terlalu besar.
“Menurutku sih, itu bukan hobi yang
buruk-buruk amat,” gumamku dengan pelan sebelum akhirnya keluar dari kelas.
Setelah keluar dari gerbang sekolah, aku
jalan sekitar sepuluh menit ke arah yang berlawanan dari apartemenku.
Tujuanku: “Pizza Rocket.” Seperti namanya,
tempat itu adalah toko pizza delivery yang lokasinya ada di dekat sekolah.
Rutinitas weekend-ku sudah jelas, mumpung
ortu nggak di rumah, aku bakal pesen pizza, minum bersoda, bermain game, terus
nonton film rental. Kehidupanku memang sesantai itu.
“Selamat da-.... oh, tumben banget kamu
dateng langsung ke sini.”
“H-Halo... bisa pesen, kan?”
“Yang biasa, ya?”
“...Iya, itu aja.”
Aku sudah sering banget pesen di sini
sampai mereka hafal pesananku. Bukan hal yang membanggakan sih, tapi ya sudah
jadi kebiasaan buat pesan di tempat ini, sampai jadi langganan tetap pula.
Sambil nunggu pesanan, aku duduk di pojokan
toko dan ngelihat keluar jendela. Karena lokasinya ada di dekat sekolah, aku
sering melihat anak-anak sekolah lewat sambil bercanda bareng teman-temannya.
“Haaah...”
Entah kenapa, tanpa sadar aku menghela
nafas dengan pelan.
Ngehabisin weekend sendirian gini emang
nggak terlalu buruk juga sih, tapi kadang ada rasa... hampa dan kesepian, yang
tiba-tiba muncul.
“Teman, ya…”
Kalau aja aku punya teman duduk di sebelah
sekarang, mungkin kami bakal ngobrol hal-hal receh, ketawa bareng, nonton
bareng... Apa aku masih bakal ngerasa kesepian kayak gini?
“Tsk, kenapa juga aku jadi mellow
begini...”
Nggak ada gunanya mikirin hal yang nggak
terjadi. Mending aku asah skill ‘main sendirian’ biar makin seru.
Akhirnya, setelah pizza pesananku jadi, aku
lanjut ke tempat berikutnya — toko rental video kecil di dekat situ.
Tempatnya agak redup tapi suasananya
nyaman. Koleksi filmnya juga unik, banyak B-movie aka film murahan tapi seru
buat ditonton karena kekonyolannya.
“Oh, minggu ini ada rilisan baru juga ya…”
Beberapa judul aneh kayak *Cyborg
Nanomachine Shark* dan *Killer vs Man-Eating Sharks on a Deserted Island*
menarik perhatianku.
“Hmm... kayaknya hari ini aku mau nonton
yang klasik aja deh.”
Tapi pas aku mau ngambil film dari rak
atas, tanganku nggak sengaja nyentuh tangan orang lain.
Tangan yang kecil, halus, dan lembut.
“Ah, maaf... Aku nggak nyadar kamu di
sini.”
“Padahal aku sudah di sini dari tadi, loh. Kamu parah banget deh, Maehara-kun.”
“Hah...?”
Aku nengok ke arahnya, dan aku pun langsung
terkejoet.
“Asanagi-san?!?!”
“Yup, betul. Kita sekelas, tapi ini pertama kalinya kita ngobrol, ya?”
“Kayaknya sih iya...”
Gadis yang berbicara denganku adalah
Asanagi-San, teman sekelasku.
“Asanagi-San, bukannya kamu ada urusan
penting ya hari ini…?”
“Huh? Maehara-Kun, kamu tadi dengerin obrolanku sama Yuu, kan? Hayoo kamu
ketahuan nguping loh~.”
“...Ah.”
Sialan. Mulutku keburu keceplosan.
“Nggak, maksudku… maaf.”
“Hehe, nggak apa-apa kok. Soalnya kami juga ngobrolnya berisik banget waktu di
kelas, jadi masuk akal kalau kamu gak sengaja dengar. Oh ya, maaf ya atas sikap
Yuu tadi.”
“Nggak, ini salahku bukan salah kamu...”
Syukurlah, dia nggak marah.
“Oh iya, soal urusan penting itu? Maaf
Maehara-Kun. Aku agak berbohong dikit… alasanku yang sebenarnya itu…”
Dia menunjuk ke arahku.
“Hah? A-aku?”
“Iya. Aada sesuatu yang ingin aku obrolkan denganmu. Boleh gal?”
“Uh, ya...”
Aku membalas dengan singkat karena
pikiranku yang sedang kacak.
Orang seperti Asanagi-San dan aku itu
harusnya nggak memiliki koneksi atau hubungan apapun.
“Kamu terlihat bingung. Aku juga awalnya
gugup sih… Maehara-Kun, nih.”
“Ini kan…”
Asanagi-San memberikan sebuah kertas
padaku, aku pernah melihat kertas ini pada bulan April lalu.
Kertasnya adalah kartu perkenalan diri yang
dulu kami isi pas awal masuk sekolah.
Kartu Perkenalan Diri
Nama: Asanagi Umi
Asal: Tachibana Girls High School
Hobi: Film, game, baca, dan hal-hal indoor
lainnya. Penggemar B-movie.
Minuman favorit: Cola dan soda. Cinta mati
sama minuman itu.
Pesan: Mencari teman yang punya hobi sama.
Yuk berteman. Hehe, bercanda deng.
“Hehe, ini berbeda dari yang aku tulis di
bulan april lalu, kurang lebih beginilah kalau dulu aku mengisinya dengan jujur.
Nggak kayak kamu Maehara-Kun yang dari awal udah mengisinya dengan jujur
banget.”
“...Oh, gitu.”
Jadi... itu alasan dia ingin berbicara
dengank. Karena kami punya minat yang sama pada B-Movie.
“Jadi, Maehara-kun, ada rekomendasi film
nggak? Aku masih pemula nih di genre ini.”
“Kalau gitu... mungkin kamu bisa coba yang ini…”
“Haha, Piranha Shark? Kenapa Hiu-nya dibikin jadi kecil banget seukuran ikan
piranha? Maksudku, bisa saja judulnya diganti jadi piranha pemakan manusia. Dan
kenapa cover filmnya lucu banget sih haha.”
“Kan lucu, ya? Mereka berusaha keras buat bikin film yang berbeda dari film
lain.”
“Iya juga, ini jadi mengingatkanku pada Kung Fu Shark.”
“Oh, aku tahu film itu! Klasik banget.”
“Filmnya ‘jelek tapi menghibur’ ya?”
“Persis.”
Dan begitulah, di pojokan toko yang sepi
itu, kami ngobrol seru soal film-film absurd.
Mulai dari hari itu, pertemanan kami pun dimulai.
Pertemanan secara diam-diam, tapi nyata.
Meskipun aku akhirnya punya teman, bukan
berarti tindakanku berubah drastis.
Secara garis besar, aku masih sama seperti
sebelumnya. nggak banyak ngobrol dengan siapa pun di sekolah, dan tentu saja
aku juga nggak pernah saling sapa di pagi hari dengan Asanagi-san.
Kegiatanku cuma bolak-balik antara rumah
dan sekolah, dan begitu sampai di rumah, aku menghabiskan waktu dengan nonton
film atau main game.
Satu-satunya perbedaan adalah... sekarang,
Asanagi-san ikut datang ke rumahku setiap Jumat malam.
“Hei, Maehara.”
“H-Halo...”
Biasanya pas jam makan malam, Asanagi-san
bakal datang ke rumahku. Di tangannya ada kantong plastik berisi beberapa botol
cola dan camilan yang kemungkinan besar dia beli di perjalanan ke sini. Kayaknya
itu cara dia buat nyiapin “hiburan,” karena sesekali dia suka bawa makanan macam
itu.
Minuman yang dijual di toko sebenarnya
lumayan mahal buat ukuran segitu, jadi ya... sebaiknya dikontrol biar nggak
boros.
“Aku udah pesen makanan di toko, tapi nggak
apa-apa kan kalau aku bawa sedikit camilan buat dimakan bareng?”
“Nggak masalah. Toh selera makanan kita juga mirip, Maehara.
...Ngomong-ngomong, kamu pesen apa kali ini?”
“Hmm, soalnya kemarin agak ringan, jadi sekarang aku pesen yang lebih berat.”
“‘Angel and Demon Garlic & Cheese & Teriyaki Chicken.’ Keju dan mayonya
dobel, bawangnya tiga kali lipat.”
Kami memang satu frekuensi.
“Maehara, kamu parah juga ya.”
“Yah, cuma segitu doang, kok.”
Mungkin beginilah yang disebut serasi. Aku
nggak nyangka selera makanan kami bisa mirip sejauh ini. Buat kebanyakan cewek,
menu kayak gitu mungkin terlalu berat, tapi Asanagi-san justru suka rasa yang
kuat dan aroma yang tajam.
Tak lama kemudian, pesanan kami datang.
Kami bawa ke meja makan atau lebih tepatnya, kami taruh aja di karpet ruang
tamu depan TV.
“Pokoknya, kerja bagus minggu ini.”
“Iya, kamu juga.”
Kami ngangkat gelas cola masing-masing,
lalu bersulang. Rasa manis dan khasnya yang nyegerin, ditambah sensasi soda
yang menggelitik tenggorokan, langsung ngilangin rasa capek seminggu ini.
“Hei, Maehara. Rencana malam ini apa? Mau
kumpulin material lagi sama hunting?”
“Tadinya sih mau itu, tapi entah kenapa, malam ini aku lebih pengin main game
kompe daripada game co-op.”
Dengan pizza ukuran L di tangan
masing-masing, aku ngeluarin konsol game dari bawah rak TV.
Aku pilih game FPS, yang biasanya aku main
solo, selesaiin misi atau lawan musuh satu-satu.
“Oh, yang itu. Kamu emang nggak kapok, ya?
Hari ini aku bakal nembak pantatmu dua kali pake peluru timah, jadi siap-siap
aja.”
“Padahal minggu lalu kamu kalah sepuluh kali berturut-turut.”
“A-Aku udah latihan di rumah... Lagi pula, hari ini aku bakal bales
kekalahanku!”
“Iya, iya, ngomong doang mah gampang.”
Kami bersihin tangan pakai tisu basah, lalu
mulai main. Aturannya simple, siapa yang bisa menang sepuluh ronde duluan, dia
yang menang.
“Hei! Itu senjataku! Curang banget!”
“Di medan perang nggak ada istilah curang. Siapa cepat dia dapat.”
“Uh...! Oke, sekarang kamu nyari gara-gara. Aku bakal bikin kamu nyesel udah
ngeremehin aku.”
“Baru satu ronde aja udah emosi... kesabaranmu itu setipis tisu, ya?”
Sambil sesekali nyemil pizza dan kentang
gorengnya, kami terus main sampai sepuluh ronde berlalu.
“........”
BOOM!
“U-um, Asanagi-san... suara gebrakan meja
bisa ganggu orang di lantai bawah. jadi... bisa nggak, jangan dipukul gitu?”
Win rate-ku masih 100%.
Kayaknya Asanagi-san suka gamenya, tapi
skill-nya masih kurang.
Ya wajar sih, dia bukan gamer sefanatik
aku.
“...Main yang lain.”
“Hah?”
“Mau main game yang lain.”
...Oke deh.”
Melihat Asanagi-san dengan mata agak
berkaca, aku memutuskan buat sedikit lebih ngalah lagi mulai sekarang.
Begitulah akhir pekan kami, aku dan
Asanagi-San bermain berbagai macam game bersama.
Bermain game bersama menambah keseruan
baru, meskipun kami sudah menamatkan banyak game yang ada di rumah. Kami
menaklukkan misi co-op yang nggak bisa kulalui sendirian, dan saling berbagi
tips dan trik saat main di mode kompe.
Akhir pekan yang biasanya terasa
membosankan pun berlalu dalam sekejap.
“Ah, udah malam aja. Aku harus pulang nih.”
“Ya, udahan aja yuk.”
“Oke.”
Jarum jam sudah lewat pukul sembilan malam.
Walaupun dia sudah izin ke orang tuanya, tapi kalau pulang terlalu malam, pasti
nanti orang tuanya juga merasa khawatir.
“Oh, aku bantu beresin ya.”
“Tentu. Cuma tinggal cuci gelas, sisanya buang aja ke tempat sampah.”
Semua makanan yang kami siapkan habis tak
bersisa. Padahal kelihatannya banyak, tapi entah bagaimana habis waktu kami bermain.
Aku makan banyak, tapi Asanagi-san makan
lebih banyak lagi.
“Eh, kenapa, Maehara? Kamu kok liat-liat
badan aku gitu. Nakal banget sih.”
“Eh, nggak... Aku cuma kepikiran aja, kamu makan lumayan banyak, tapi tetap aja
lebih langsing dari aku.”
“Ya, soalnya aku olahraga juga sesekali. Dan sebaliknya, aku kok melihat bagian
perutmu kayak agak kebanyakan lemak gitu ya~?”
“Haah?!”
“Eh?”
Tiba-tiba dia mencubit pinggangku, dan aku
spontan menjerit kecil. Aku nggak terbiasa disentuh orang lain, dan kulitku juga
agak sensitif.
“Hmmm…”
Kelihatannya dia lagi mikirin sesuatu yang
jahil, soalnya senyumnya kelihatan licik.
“U-um... Asanagi-san?”
Aku baru sadar kalau aku baru saja membuat
kesalahan besar, tapi itu sudah terlambat.
“Hyaa...?”
Setelah tahu kelemahanku, Asanagi-san
langsung tanpa ampun menggelitik pinggangku.
“Oh~ Jadi di sini titik lemahmu, ya
Maehara~? Kalau di sini gimana?”
“T-tolong... semua bagian di sekitar situ itu sensitif... jadi, tolong, hentikan...”
“Hehe, gimana ya~? Aku udah nahan stres banget hari ini gara-gara kamu suka
godain aku, Maehara~”
“Ugh, k-kamu iblis...”
Aku berusaha kabur dari serangan gelitikan
itu, tapi tenagaku nggak cukup buat melawan.
Dan akhirnya, aku terus dibuat malu sama
Asanagi-san selama beberapa menit.
“A-aku malah bikin suara kayak cewek...”
“Hehe, padahal kamu cowok, tapi suaranya imut banget pas minta ampun. Lucu
banget sih, Maehara~”
“Ugh... Tunggu aja pembalasan nanti...”
“Hahaha, semangat ya~”
Begitu aku ngomong gitu, Asanagi-san mulai tertawa
ngakak sampai matanya berair.
Padahal tadi aku menang di game, tapi
rasanya nyebelin banget bisa dibalas kayak gini.
“Hah... udah puas sekarang? Sana pulang.
Cepetan, hush hush.”
“Baik, baik~. Ah~ hari ini seru banget. Padahal baru dua-tiga kali main bareng,
tapi nggak nyangka bisa sedekat ini~”
“Ya juga sih... Walau hobi kita sama, tetap aja aneh rasanya kamu bisa
nyamperin aku duluan, Asanagi-san.”
“Aduh~ aku nggak bisa saingan sama Maehara-kun yang jago banget ngajak cewek
main bareng.”
“Y-Yah, aku juga nggak punya pilihan lain. Soalnya aku nggak kepikiran kegiatan
lain selain main game di rumah.”
Aku belum pernah nongkrong bareng temen
sepulang sekolah sebelumnya, jadi pilihanku memang terbatas.
“Oh gitu. Ya udah, minggu depan kita main
di luar aja ya. Sampai ketemu lagi nanti~”
“Eh—tunggu dulu.”
Aku hampir keburu jawab iya, tapi
cepat-cepat kutahan.
“Ada apa? Emangnya minggu depan kamu nggak
bisa, ya?”
“Nggak, bisa kok, aku juga lagi nggak ada rencana... cuma, maksudmu main di
luar itu... di luar rumah, kan?”
“Tentu aja. Kita kan anak SMA, masa di rumah mulu. Sekali-sekali jalan dong. belanja
dikit, makan, main di arcade. Masa kamu terus yang ngajak dan ngurusin aku,
sekarang giliranku ngajarin kamu cara bersenang-senang di luar.”
Yah, main di tempat lain buat ganti suasana
kayaknya seru juga sih.
“Buat konfirmasi aja... cuma berdua, kan?”
“Tentu. Hubungan pertemanan antara aku dan Maehara itu rahasia, ingat?”
Aku yang nyaris nggak kelihatan di kelas,
dan dia yang jadi pusat perhatian... walau kami nggak pacaran, tetap aja kalau
ketahuan pasti bakal jadi bahan gosip.
“Oh, gitu ya. Kamu deg-degan karena
‘kencan’ sepulang sekolah kita, ya?”
“Kencan... ya nggak sejauh itu juga.”
“Haha, santai aja. Aku pastiin kita nggak ketemu siapa pun dari kelas. Masih
muda gini jadi sekali-sekali ngerasain sedikit deg-degan juga nggak apa-apa, kan?”
“Hmm... apa itu beneran ide bagus, ya...”
Aku sih langsung mikirin risiko duluan,
tapi kupikir Asanagi-san bisa ngatur semuanya.
“Aku bilang nggak apa-apa karena memang
nggak masalah. Lagian, kalau ketahuan, ya tinggal bilang aja, ‘Kami pacaran!’”
“Tapi kita kan nggak pacaran.”
“Hahaha, bercanda kok. Ya udah, minggu depan gitu aja ya. Oh iya, biayanya kita
patungan, jadi santai aja.”
“Ya jelaslah patungan. Kamu ngomong apa sih.”
Kayaknya aku harus ngomong ke ibu buat
nambah uang jajan makan dulu deh. Dan tentu aja, aku bakal rahasiakan kalau aku
bakal keluar sama cewek.
Sekarang tinggal nunggu Asanagi-san
ngabarin soal detail rencananya nanti.
“Apa yang kamu barusan bilang, Maki? Aneh
deh. Telinga Mama rusak ya... coba ulangi lagi deh?”
“Yang Ibu dengar itu benar kok. Dan itu bukan halusinasi.”
“Aku tahu, aku tahu. Tapi tolong ulangi sekali lagi aja?”
“Duh...”
Paginya, sebelum Ibu berangkat kerja, aku
cerita soal rencana akhir pekanku, dan dia terlihat benar-benar kaget atau
pura-pura, dengan mulut setengah terbuka.
“Jadi... aku mau keluar sama teman sepulang
sekolah akhir pekan ini... dan aku mau minta sedikit uang tambahan.”
Karena uangku cuma tersisa 2.000 yen, jelas
gak cukup buat ongkos, makan, dan hiburan. Jadi aku gak punya pilihan selain
minta ke Ibu.
“Kamu gak pernah kayak gini sebelumnya...
Jangan-jangan kamu dipalak orang, ya?”
“Nggak kok, bu. Temanku orang baik.”
“Bukan teman imajinasi, kan? Kamu gak skizo, kan?!”
“Bukan.”
Karena pembicaraannya tiba-tiba, wajar
kalau Ibu khawatir. Tapi dia kelihatan senang juga, jadi aku merasa agak
canggung. Sebenarnya aku penasaran gimana reaksinya kalau tahu kalau temanku
itu cewek...
“Uangnya, ya? Tentu saja boleh. Nih.”
“Hah? Nggak, nggak usah sepuluh ribu, cukup satu atau dua ribu yen aja.”
“Oh gitu? Ya sudah, kalau nanti kurang, bilang aja. Gak masalah kok.”
Masalah uang pun sementara terselesaikan.
Sekarang tinggal nunggu kabar dari Asanagi-san.
Setelah itu, aku berhasil mengusir Ibu yang
kepo soal ‘temanku’ dan bersiap ke sekolah.
“Agak lebih pagi dari biasanya sih, tapi...
yah, gak apa-apa lah sesekali.”
Biasanya Senin pagi terasa berat, tapi
entah kenapa hari ini aku merasa sedikit lega.
…Aku ini cowok dangkal banget.
Di jalan yang lebih sepi dari biasanya, aku
langsung buka aplikasi pesan untuk menghubungi Asanagi-san.
Karena hubungan kami rahasia, ini
satu-satunya cara komunikasi antara kami, sebab kami gak bisa ngobrol di
sekolah.
“Pagi, Asanagi-san. Kamu udah baikan?”
“(Asanagi) Iya. Pagi juga.”
“(Asanagi) Kamu udah dapat uangnya?”
“Iya.”
“(Asanagi) Ah, makasih atas traktirannya~”
“Lah, kan kita katanya bakal patungan?”
“Hehe. Nanti aku kabarin lagi, ya.”
“(Asanagi) Oke, sampai jumpa di sekolah.”
“Iya.”
Selain akhir pekan, kami cuma saling kirim
pesan seperlunya. Gak sering sih, tapi ini udah jadi kemajuan besar buatku.
“Pagi, Yuu-chan! Eh, kamu lihat yang
kemarin gak?”
“Pagi, Ninacchi~. Lihat dong! Adegan itu keren banget, dan heroine-nya imut
banget, kan~”
Begitu masuk kelas, aku lihat grupnya
Amami-san sudah asyik ngobrol.
Tentu saja, Asanagi-san ada di sana juga.
“Hmm? Ah, maaf. Aku gak sempat nonton live
kemarin.”
“Eh, jarang banget kamu ketinggalan, Umi-chin.”
“Aku lagi riset sesuatu. Tahu-tahu udah malam aja.”
“Riset? Buat tugas sekolah, kah?”
“Nggak, bukan... Hehe, aku gak butuh riset but itu, aku kan murid teladan~”
“Wah, mulai lagi sombongnya Asanagi.”
“Tapi bener, kan~”
Sambil tertawa, Asanagi-san diam-diam
melambai kecil ke arahku. Gerakannya halus, tapi cukup bikin jantungku
deg-degan, takut juga aku kalau sampai ada yang sadar.
“Eh, Umi, barusan kenapa?”
“Oh, kayaknya pergelangan tanganku gatal deh. Mungkin digigit nyamuk?”
Dia berkata seperti itu sambil nyengir
santai. Aku benar-benar kagum sama keberaniannya.
Begitu duduk di mejaku, pesan masuk lagi.
“(Asanagi) Tuh kan, gak ketahuan~”
“Yah, tapi tadi cukup berisiko juga, loh.”
“(Asanagi) Namanya juga butuh keberanian. Pokoknya weekend nanti sama kayak
gini, ya.”
“Apa gak bahaya...”
Jujur, aku khawatir banget. Tapi di sisi
lain, aku gak bisa menahan rasa excited-ku.
Aku menghabiskan pagi itu mikirin alasan
kalau sampai ketahuan, dan gak lama kemudian jam istirahat tiba, momen singkat
untuk bernapas dari pelajaran membosankan.
“Kalau gitu...”
Sambil menunggu arus siswa yang bergegas ke
kantin atau toko sekolah reda, aku diam-diam keluar kelas.
Aku menuju tempat sepi dekat parkiran, area
yang jarang dilewati orang siang-siang. Di sana ada gudang kecil, dan itu jadi
tempat persembunyian favoritku.
“Hmm...”
Sambil menyeruput teh kotak yang kubeli
dari vending machine, aku memandangi awan putih di langit musim gugur.
Sendirian begini rasanya tenang. Meski seru main bareng Asanagi-san tapi,
menjalin pertemanan pertama itu melelahkan juga.
“...Aku beneran cocok gak ya, jadi temannya
Asanagi-san?”
Mungkin aku capek. Pikiran-pikiran kayak
gitu keluar tanpa kusadari. Haruskah aku lebih aktif main bareng? Apa aku
terlalu banyak ngomongin dia dan kurang bahas hal lain?
Dia yang ngenalin aku pada dunia
pertemanan, jadi aku juga pengin berusaha menjaga hubungan ini.
“...Masih agak awal sih, tapi aku balik ke
kelas aja, deh.”
Aku habiskan sisa bekal, minum teh, lalu
berdiri.
Biasanya aku akan tidur sebentar, tapi hari
ini entah kenapa gak bisa tenang.
Mungkin aku terlalu banyak mikir. Ternyata
punya teman itu susah juga.
“…Jadi, ada apa, Senpai? Kenapa mengajakku ke
tempat kayak gini?”
“Iya. Sebenarnya, aku mau ngomong sesuatu.”
“Hmm?”
Baru aja aku mau balik ke kelas, tiba-tiba
terdengar suara. Suara cowok dan cewek, jaraknya agak jauh tapi masih terdengar
jelas.
Kalau mereka ngomong di tempat sepi
begini... aku bisa tebak kira-kira ini soal apa.
Aku kehilangan timing buat keluar dan
akhirnya berjongkok lagi di tempatku.
Aku gak bermaksud nguping, tapi rasanya gak
enak juga.
“Bisa sih lewat jalan lain biar gak
ketahuan... tapi itu berarti harus lewat ruang guru. Atau aku tetap sembunyi di
sini aja ya?”
Kalau ketahuan guru, pasti repot. Aku gak
bisa bilang aku lagi ‘dengerin pengakuan orang’.
Jadi aku menahan napas dan diam di tempat.
“Hati-hati, jangan berisik, nanti
ketahuan.”
“Y-Ya... tapi tanahnya licin... Wah!”
Mereka malah datang dari arah yang sempat
kupikirkan. Suaranya makin dekat.
“Hm? Eh, bukannya itu Maehara-kun?”
“! Amami-san…”
“Hah? Ada apa? Yuu-chin, kamu kenal dia?”
“Hah? Ninacchi, masa kamu gak kenal? Ini Maehara Maki-kun, teman sekelas kita.”
Di depanku berdiri dua teman sekelas,
Amami-san dan Nitta-san... Tapi kenapa mereka di tempat sepi begini? Tadi
mereka kan makan bareng Asanagi-san?
“Yah, yang penting minggir dikit dong, aku
gak bisa lihat Asanagi dari situ. Ayo, Yuu-chin, kamu juga.”
“Ah... maaf ya, Maehara-kun. Ninacchi kadang suka gak lihat situasi kalau udah
kayak gini.”
“Gak apa-apa sih, tapi...”
Yang menarik perhatianku bukan permintaan
maaf mereka, aku malah ngintip ke arah tempat suara itu berasal.
“Asanagi-chan, kalau gak keberatan...
maukah kamu jadi pacarku?”
“........”
Perasaanku langsung gak enak sejak tadi,
dan benar saja, cewek yang sedang ditembak itu adalah Asanagi-san.